Namanya Pak Hasan. Usianya tujuh puluh tahun. Rambutnya telah memutih, langkahnya mulai pelan, dan tangannya tidak lagi sekuat dahulu.

Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai seorang pekerja keras. Puluhan tahun ia habiskan untuk menyelesaikan proyek demi proyek. Ia pernah membangun gedung-gedung tinggi, jembatan yang menghubungkan dua daerah, jalan raya yang membelah perbukitan, dan berbagai pekerjaan besar lainnya.

Ketika orang melewati bangunan megah hasil kerjanya, mereka berdecak kagum.

“Itu proyek Pak Hasan.”

Ketika melihat jalan yang mulus dan kokoh, orang berkata, “Beliau yang dulu memimpinnya.”

Namun setiap kali mendengar pujian itu, Pak Hasan hanya tersenyum tipis.

Karena jauh di dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang mulai sering datang ketika usia semakin menua:

“Aku telah menyelesaikan begitu banyak proyek dunia. Tetapi bagaimana dengan proyek untuk akhiratku?”
Suatu sore setelah pensiun, ia duduk di teras rumah sambil memandang matahari yang mulai tenggelam.

Tiba-tiba terdengar azan Maghrib.

Suara itu terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dahulu azan sering terdengar di sela-sela kesibukan rapat, perjalanan dinas, dan target pekerjaan. Kini tidak ada lagi alasan untuk menundanya. Pak Hasan berdiri perlahan. Matanya berkaca-kaca.

“Aku sudah menyelesaikan banyak pekerjaan manusia. Sekarang saatnya menyelesaikan urusanku dengan Allah.”

Sejak hari itu hidupnya berubah.

Ia mulai menyusun “proyek” baru.
Bukan proyek gedung.
Bukan proyek jalan raya.
Bukan proyek bisnis.
Tetapi proyek-proyek akhirat.

Di sebuah buku kecil ia menulis:

Proyek pertama: menjaga shalat berjamaah.

Proyek kedua: mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali sebelum wafat.

Proyek ketiga: memperbanyak sedekah yang terus mengalir.

Proyek keempat: memperbaiki akhlak dan memperbanyak istighfar.

Proyek kelima: mempersiapkan bekal menuju kubur.

Ia tersenyum melihat daftar itu.

Inilah proyek terbesar yang sedang dan akan ia kerjakan yang tidak akan pernah habis, sampai ajal menjemputnya.

Hari-hari berlalu. Orang-orang heran melihat perubahan Pak Hasan. Pagi hari ia berada di masjid. Siang hari ia membaca Al-Qur’an.
Sore hari ia mengajar anak-anak mengaji. Malam hari ia bangun untuk shalat tahajud.

Suatu ketika seorang teman lamanya bertanya, “Pak Hasan, bukankah masa pensiun itu saatnya menikmati hidup?”

Pak Hasan tersenyum.
“Aku sedang menikmati hidup.”
“Tapi kau tidak lagi mengejar dunia.”

Pak Hasan menatap sahabatnya dengan lembut. “Dunia yang selama ini aku kejar perlahan sedang meninggalkanku. Mengapa aku harus terus mengejarnya? Sekarang aku ingin mengejar sesuatu yang akan menemaniku setelah mati.”

Temannya terdiam.

Suatu malam setelah tahajud, Pak Hasan membaca firman Allah:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat.” (QS. Al-Qashash: 77)

Air matanya jatuh membasahi mushaf. Ia sadar bahwa seluruh proyek dunia yang pernah dibangunnya suatu hari akan rusak. Gedung akan lapuk. Jalan akan retak. Jembatan akan menua. Namanya pun mungkin akan dilupakan.

Tetapi satu rakaat shalat yang ikhlas tidak akan hilang. Satu ayat Al-Qur’an yang dibaca tidak akan sia-sia. Satu sedekah yang diberikan karena Allah akan tetap tersimpan. Beberapa tahun kemudian, kesehatan Pak Hasan mulai menurun.

Suatu hari ia berkata kepada anak-anaknya,
“Dulu Ayah membangun banyak bangunan. Sekarang Ayah sedang menyelesaikan proyek terakhir.”

“Apa itu, Yah?”

Pak Hasan tersenyum.
“Membangun rumah di surga dengan amal saleh.”

Anak-anaknya menangis. Mereka melihat wajah ayah mereka begitu tenang. Seakan-akan ia sedang menunggu hasil dari proyek terbesarnya.
Tidak lama kemudian, Pak Hasan dipanggil menghadap Allah.

Masjid tempat ia sering shalat dipenuhi pelayat. Banyak yang datang. Ada yang mengenangnya sebagai insinyur. Ada yang mengenangnya sebagai pemimpin proyek. Namun lebih banyak lagi yang mengenangnya sebagai lelaki tua yang selalu berada di saf pertama.

Sebagai guru mengaji. Sebagai ahli sedekah. Sebagai orang yang lisannya basah dengan zikir.

Dan mungkin, ketika seluruh proyek dunia telah tertinggal jauh di belakang, yang menyambutnya di alam sana bukanlah gedung-gedung yang pernah ia bangun. Melainkan amal-amal yang dahulu ia kerjakan dengan ikhlas karena Allah.

Karena pada akhirnya, proyek terbesar dalam hidup manusia bukanlah apa yang berhasil ia bangun di bumi. Tetapi apa yang berhasil ia persiapkan untuk kehidupan setelah kematian.

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menjadikan masa tua kita sebagai masa terbaik dalam kehidupan, dan menjadikan akhir amal kita sebagai amal yang paling dicintai-Nya. Aamiin.

sumber: belum diketahui