Masih Mau Sebut Lansia?

Tiket kereta api Gambir Yogyakarta terselip di sela jemari. Di pojok kiri atas tiket, tertera kolom usia. Isi kolom, tertulis LANSIA. Tulisan yang memaksa mata nanar. Tak bisa dicegah, disebut lansia seolah ada yang langsung dihempas. Bisa jadi itu yang dirasa sebagian yang berusia 60-an tahun ke atas.

Maksudnya? Bagi kebanyakan orang, soal di atas memang remeh temeh. Selumrah nikmati irama tembang kenangan, yang alunannya meronai relung-relung masa silam usia 60 tahun keatas.

Yang pasrah atau tak soal disebut lansia, senanglah ada discount 20%. Sambil cicipi kuliner di kereta jarak jauh, kenikmatan jadi lengkap berlipat. Senyum ditabur sunggingan. Penawar derak roda besi yang meluncur di atas rel besi pula. Sepenggalah kenikmatan yang belum tentu bisa dicicipi yang belum berusia 60 tahun.

Memang. Potongan 20% bak “sekali dayung dua pulau terlewati”. Pertama discount jadi bukti penghargaan PT KAI. Kedua bagaimana pun business as usual. BUMN besi merayap warisan kolonial itu toh tetap jeli cungkil peluang.

Daripada uang makin lusuh berada di kocek yang berusia lewat paruh baya, lebih baik tersalur perkuat perkasanya PT KAI model besutan Jonan. Dengan reputasi sakti madraguna melerai puluhan tahun kekisruhan kereta, barangkali Jonan pun bakal terusik jika dikatakan lansia.

Jonan dan yang lain-lain, yang punya karakter, yang punya kemampuan, serta yang mampu memimpin, pasti dibutuhkan ibu pertiwi. Tapi ada ibu lain yakni ibu tiri yang bukan kiasan tanpa makna. Ada asap pasti ada api, begitu pameo kita mewanti-wanti.

Artinya tak sedikit ibu-ibu tiri yang menjelma jadi politisi kutu loncat, aparat tanpa tanggung jawab, pejabat yang aji mumpungkan jabatan, serta mereka-mereka yang jadi benalu bangsa, jelas tak siap bersanding dengan orang-orang berintegritas.

Para benalu ini, sekarang lahirkan keluarga dan anak-anak bermasalah. Kelak begitu mereka berusia 60 tahun, pasti mereka jadi beban berganda. Melelahkan bangun keluarga dengan harta negara, akhirnya setelah di akhir hayat, tetap saja dirawat dengan uang korupsi.

Memang. Tak terhentikan dan tak perlu mendaftar. Deretan yang berusia 60 tahun terus bertambah rangsekannya tiap tahun. Kaki mereka menjejak di tiap jengkal tanah air. Dari sejumlah itu berapa banyak yang pasrah tak berdaya ketika disebut lansia. Di samping berapa banyak yang mafhum hingga seperti mendapat ekstra energi saat disebut SENIOR CITIZEN. Atau WARGA TERHORMAT.

Ini bukan dilemma, dikotomi, atau kontradiktif. Juga tak bermakna anomaly, seperti gemuk kekurusan-kurusan atau hitam keputih-putihan. Ini konsekuensi kata atau istilah. Sebut lansia ada konsekuensi. Bilang senior citizen, warga terhormat, juga punya tuntutan.

Data bicara. Tercatat pensiunan ada 33-an juta lebih. Entah apakah sudah termasuk yang berusia 60-an tahun di pelosok-pelosok negeri. Sebab terdatakah peternak atau petani, yang masih banyak yang aktif di usia itu. Sebab lain sebagian juga tak tahu kapan mereka lahir.

Dengan sebut 30-an juta itu sebagai lansia, konsekuensinya mereka jadi “kerumunan raksasa”. Akumulasi beban yang mengkolosal. Negeri yang tengah terengah-engah besiasah wujudkan “bonus demografi”, ternyata esok harus atur strategi lagi untuk bisa perah “bonus lansia”. Apa ada yang yakin “beban lansia” bisa hasilkan “bonus lansia”?

Dalam sulaman lipatan demi lipatan dari masa ke masa, istilah lansia jadi “keterlanjuran sejarah”. Melanjutkan kata lansia jelas itu menterlanjurkan sejarah. Tanpa sadar kita sepakat “memasyarakatkan lansia dan menglansiakan masyarakat”.

Artinya masyarakat yang perkasa, kita LANG-SIAKAN hingga hilang otot kedinamisannya. Kemampuan mereka yang berusia 60-an tahun, tiba-tiba kita lucuti di titik paling nadir. Jika benar nama itu doa, masihkah mau sebut mereka LANSIA?

oleh: Erie Sudewo

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *