Kekeliruan Pemikiran
- account_circle admin
- calendar_month 20/06/2026
- visibility 12
- comment 1 komentar
- label Artikel
“Sudut pandang” bisa jadi rumus sahih guyubkan diskusi. Keramahan “sudut lain” tersebut, juga bisa damaikan bergidiknya bulu roma saat disinggung satu kata. Apa itu? Pensiun.
Tak bisa dielak, sebagian benak kita langsung bergejolak saat disinggung kata pensiun. Bagai kartu mati, seolah mereka sosok-sosok yang tak layak lagi tegak. Padahal no black no game. Malam pun punya hitam, mengandung beragam fitur kehidupan yang tak dijumpai di terang berderannya siang.
Sisihkan pensiun jelas pelecehan. Bukan hanya yang tak adil, tak etis, dan tak pada tempatnya. Maka saatnya kita pakai cara pengadilan seriusi perkara. Bahwa berkas peleceh itu ternyata siratkan dua hal ke dalam dan dua hal keluar.
Dua hal pertama kedalam. Pertama pelecehan tersebut cerminkan dangkalnya kualitas cara pandang peleceh. Kedangkalan yang telah disindir petuah lama: “Air beriak tanda tak dalam”. Maka kedua tanpa sadar, kekeliruan itu jadi “buku petunjuk” mind set kesomboronoan. Cilakanya telah terlanjur memasyarakat, membungkus paradigma akan kesia-siaan para pensiun.
Empat hal kedua yang ke luar. Pertama pelecehan itu sinyal gagalnya telusuri paket lengkap para pensiun. Kedua karena tak bisa singkap potensi, penisbian kemaslahatan jadi sempurna. Potensi yang mestinya bisa ruahkan kemaslahatan malah terus tersia-sia.
Ketiga ini yang mendera pensiunan. Bahwa kegagalan mengendus potensi itu, sama seperti membiarkan para pensiunan hidup sendiri di babak akhir. Mereka “lunglai dan dilunglaikan”. Berada di titik nadir yang di-down to earth-kan oleh sesatnya cara pandang yang sistemik.
Dan keempat inilah yang terkejam. Sekian juta langkah telah mereka ukir. Pahlawan bagi keluarga, juga berjasa bagi bangsa. Namun di ujung jalan, justru ada pandangan sebelah mata dan lirikan tak bersahabat, itu yang seolah sudutkan “mereka jadi beban”.
Pertanyaannya: “Sampai kapan anggapan sesat ini terus memasung benak masyarakat?” Selama keliru memahami “air beriak tanda tak dalam”, selama tanpa sadar pelecehan terus dirawat, selama itu pula kita gagal pahami jiwa dan raga para pensiunan.
Mereka paket lengkap. Mereka kaya pengalaman, punya skill, jaringan terbentang yang siap dirajut, akses yang tinggal dibuka gemboknya, dan sebagian dimudahkan ber-aset. Mereka siap meledak ketika dieksplorasi.
Mindset mesti diubah: “Daripada sebut lansia, lebih digdaya sebut mereka sebagai senior citizen”. Ahlan wasahlan Warga Terhormat. Kita bangun lagi, rebuild Indonesia.
—
Penulis : Erie Sudewo
Hi, this is a comment.
20 June 2026 7:13 amTo get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.