Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
“Fatumnasi tidak membutuhkan kepedulian yang berhenti pada rasa iba. Desa ini membutuhkan pengalaman terbaik negeri yang diterjemahkan menjadi sistem air, pangan yang lebih tangguh, peta risiko, dan warga yang siap bertindak.
Saya mengajak para Senior Expert, perusahaan, dan tokoh publik untuk hadir sebelum ancaman berubah menjadi kehilangan yang seharusnya dapat kita cegah.”
Fatumnasi berada di antara dua ancaman yang datang bergantian: kemarau panjang yang menekan ketersediaan air dan pangan, serta hujan intens yang meningkatkan risiko longsor dan terputusnya akses.
Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki skor Indeks Risiko Bencana 166,22 dan termasuk dalam kelas risiko tinggi. Kesiapsiagaan desa bukan lagi program tambahan, melainkan kebutuhan dasar untuk melindungi kehidupan dan penghidupan warga.
Kondisi iklim Nusa Tenggara Timur secara umum dapat mengalami delapan hingga sembilan bulan kering, bahkan dalam kondisi tertentu mencapai sepuluh bulan. Tanpa pengelolaan air dan pangan yang adaptif, satu musim kering dapat menggerus kesehatan, hasil pertanian, ternak, dan pendapatan keluarga.
Pada Juli 2026, dua titik longsor dilaporkan berada pada ruas Kuanoel–Fatumnasi. Kerusakan akses dapat menghambat mobilitas warga, distribusi kebutuhan dasar, pemasaran hasil pertanian, dan perjalanan menuju kawasan wisata Fatumnasi.
Data BPS 2024 mencatat Desa Fatumnasi dihuni 1.841 jiwa. Dokumen perencanaan Kabupaten TTS juga mengakui bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko longsor, kekeringan, kelangkaan air bersih, dan penurunan produktivitas pertanian. Setiap bulan penundaan mempersempit kesempatan untuk membangun kesiapan sebelum musim berikutnya datang.
Menyusun rencana ketahanan air desa dan melindungi sumber air prioritas
Penerapan kalender tanam berbasis kondisi iklim dan tanaman yang lebih adaptif
Memetakan titik rawan longsor serta mitigasi vegetatif dan rekomendasi teknis
Pemetaan kelompok rentan dan menyelenggarakan simulasi kebencanaan
Di Fatumnasi, pengalaman puluhan tahun dapat menjadi perlindungan nyata bagi sebuah desa dan masa depan warganya.
Hari 1–30:
Tim melakukan asesmen partisipatif untuk memetakan sumber air, kelompok rentan, mata pencaharian, jalur kritis, kapasitas lokal, dan titik risiko bersama pemerintah serta warga desa.
Hari 31–60:
Temuan lapangan diterjemahkan menjadi desain intervensi. Senior Expert, fasilitator, pemerintah desa, tokoh adat, perempuan, pemuda, dan kelompok warga menyepakati prioritas serta indikator keberhasilan.
Hari 61–150:
Intervensi prioritas dilaksanakan bersamaan dengan pembentukan Tim Siaga Desa, pelatihan warga, pendampingan pertanian adaptif, penguatan pengelolaan air, dan transfer pengetahuan dari Senior Expert.
Hari 151–180:
Sistem kesiapsiagaan diuji melalui simulasi, hasil awal diukur, kekurangan diperbaiki, dan perangkat program diserahkan kepada kelembagaan lokal agar dapat diteruskan setelah proyek berakhir.
Untuk mendukung keberhasilan Program Desa Siaga Fatumnasi, tiga bidang keahlian Senior Expert yang paling dibutuhkan
6 orang
Mulai
375 Juta
volunteer
Fatumnasi tidak kekurangan ketangguhan. Desa ini membutuhkan pengetahuan, sumber daya, dan lebih banyak orang yang bersedia berdiri bersama warganya.
