innamal a’malu binniyat
RAPAT DI LUAR RAPAT (2 – Habis)
Nuansa “rapat di luar rapat” memang anomaly. Dikata rumit ternyata sederhana. Dianggap sepele ternyata sensitive. Sebab yang dibahas di “rapat di luar rapat” itu WHY. Tanpa why, WHAT tetap tergantung rapuh. Demikianlah rapat-rapat formal, maknanya hilang tercecer karena rutin terjadwal.
Sebenarnya ada dua tujuan “rapat di luar rapat”. Ke-1 tujuan langsung. Yang ini kita mudahkan terbagi atas tiga bilah: sebelum, saat, dan usai rapat resmi.
1. Sebelum rapat resmi, itu mempercepat atau mempermudah.
2. Saat jeda rapat, agar masalah segera diselesaikan.
3. Usai rapat, untuk luruskan kesalahpahaman.
Ke-2 tujuan tak langsung. Tujuan ini seperti lorong yang terpecah di tiga cabang:
1. Tujuan teknis, memutus rapat formal yang banyak membosankan.
2. Tujuan diam-diam, membangun relasi dan jejaring di bawah tanah.
3. Tujuan yang tak disadari, sebagai ajang latihan jadi pelobby ulung.
Tujuan tak langsung memang hanya bisa disingkap oleh yang jeli menguak yang tersirat. Serius kelola “rapat di luar rapat”, akhirnya bisa kuasai beragam trik melobby. Esensinya: “Duta siapa lobby siapa”. Sebuah seni yang bisa unggulkan diri jadi pelobby.
Profesi baru yang tak diajarkan di kampus, meski di jurusan komunikasi sekalipun. Padahal cuannya bisa membelalak mata. Lobby memuaskan, yang terpuasi bisa lupa daratan. Cuan bisa tergelontor meruah-ruah.
Dibanding buzzer, cuannya entah atau malah 11 – 12. Kerjanya ini yang beda. Buzzer tak perlu “rapat di luar rapat”. Cukup dengan diri sendiri. Usai taklukan diri atau ditekuk nafsu, buzzer langsung bertindak. Hambatan buzzer adalah hal baik. Sebab apa yang diungkap buzzer, “jika tak dusta ya fitnah”.
Yang terakhir ini bisa juga membesut sisi lain “rapat di luar rapat”. Seperti madu dan racun, tak bisa dipungkiri akhirnya “rapat di luar rapat” tawarkan dua jalan. Ke-1 “jalan baik”, ke-2 jalan “merasa baik”.
Sudah sunatullah. Jalan baik berharap nyaman. Padamkan pihak yang bertika atau luruskan salah paham, mustahil hadirkan sosok macam Sengkuni. Yang dibutuhkan duta di sini, lihat wajahnya saja sudah teduh dan adem. Belum bicara pun aura suasana sudah nyaman.
Jalan ke-2 yang “merasa baik”, tampak ingin paksa kehendak atau kepentingan. Puncaknya adalah kesepatakan terpenuhi kepentingan para pihak. Rugikan pihak lain, bukan bagian kesepakatan. Hari ini berbagi, esok belum tentu. Karena tahun depan soal lain.
Saling tekan atau saling ancam. Kelumrahan yang jika memang mesti begitu, just do it. Jika nasi rames nikmat. Di sini keculasan ditumpuk, “siapa kadali siapa”. Bisa jadi berakhir dengan senyum simpul usai terima amplop. Atau TST, “Tahu Sama Tahu” laaah.
Tapi jalur licin atau berlubang, memang masalah bro. Jalur licin menggelincirkan, jalur berlubang menjatuhkan. “Rapat di luar rapat” pun akhirnya lahirkan “kesepakatan di luar kesepakatan”. Siapa khianat bisa dikhianati juga. Wajar “satu khianat lahirkan khianat lain”.
“Rapat di luar rapat” memang bisa jadi penyelesai masalah. Tapi toh bisa juga jadi penambah masalah. Soalnya meski sudah dengan “rapat di luar rapat”, ternyata jalan masih panjang juga. Harapan yang hasilnya tak diharapkan.
Mengapa? Soalnya ternyata bukan di pihak yang hendak diseleraskan. Kemampuan selesaikan masalah itu yang jadi bottle neck. Pelobby sontoloyo jelas bottle neck. Sebaliknya pelobby merasa hebat banget akhirnya sami mawon, bottle neck juga.
“Rapat di luar rapat” memang satu cara. Akhirnya semua tergantung pada innamal a’malu binniyat. Tergantung niat pada semua pihak.
Reply