Rubuhnya Kekuatan Pensiunan

oleh : Erie Sudewo


Banyak orang kerja yang kurleb pas bandrol. Selesaikan apa yang mesti dikerjakan sesuai arahan. Pakem yang tradisinya terlanjur rutin begitu. Sedikit yang berpikir lebih dalam. Juga sedikit yang cari solusi. Lebih sedikit lagi yang berpikir mendalam sekaligus temukan solusi.

Kita memang langka yang berpikir mendalam tentang para pensiunan. Apalagi cari solusi buat mereka. Karena terlalu asyik dengan diri sendiri. “Lha memang ada masalah apa dengan pensiunan?” Pertanyaan konyol akibat alat berpikir tak pernah diasah. Moral tak dilatih peka, empati kering maka hilanglah sense of empowering. 

Bro. Mereka ada di sekitar kita, tetangga sebelah, dan bahkan di rumah sendiri. Mereka tak direken. Ada atau tidak ada ya sami mawon. Parahnya barangkali malah ada yang senewen: “Apa hebatnya pensiunan”. Namanya juga sudah pensiun, game is over.

Tapi apa kita tetap bisa pejamkan mata. Kita dikejut henyak dengan keberadaan mereka. Kejutan ke-1 jumlahnya itu lho, sekitar 33 juta orang. Ke-2 jumlah yang puluhan juta ternyata masih seperti buih di lautan. Kejutan ke-3 mestinya kita terkejut dengan dirsen. Peko.  

Mereka raksasa yang tertidur karena tak lagi dianggap, dilelapkan lingkungan, dan divaksetomi kebodohan kita. Pos estafet pensiunan memang sudah digariskan mesti ada. Hanya pos itu tak disinggahi semua pensiunan yang langsung tamat di situ. Masih banyak yang siap ayunkan langkah. Persada tercinta ini butuh recovery oase-oase yang telah lama mengerontang.

Cerdaslah pada pensiunan. Mereka beragam. Coba letak di neraca keuangan. Sebagian besar mereka mestinya jadi aktiva. Asset. Yang passiva moga bebannya bisa diatasi keluarga. Atau doa kita moga saja koneksitas langit bisa berkahkan segala jalur maslahatnya.

Kembali kita diingatkan. Yang jadi soal utama sesungguhnya adalah diri kita.  Sudah 81 tahun merdeka, gak juga ngeh akan the power of retired. Entah apakah ini akibat terlalu lama hidup dijajah. Hingga saat merdeka pun kita masih tetap melamun untuk sejahtera di tengah meruahnya sumber daya alam.

Sampai hari ini kita tetap plonga plongoh jadi penonton, tak berdaya lihat asing bangun negeri mereka dari sumber daya kita. Padahal Presiden Soekarno sudah ingatkan: “Biarkan sumber daya tetap di dalam tanah, sampai anak cucu bisa mengelola sendiri”.

Rumus alam yang tak banyak disingkap adalah “satu kebodohan lahirkan kebodohan lain”. Maka rekahan sumber daya pensiunan yang tinggal petik, akhirnya tetap tak terdeteksi. Kita pun tak merasa risih, tak masghul, tak peduli, dan tak merasa kehilangan.

Faktanya bukan tinggal selangkah lagi, bahwa kemampuan pensiunan pelan tapi pasti terus luruh ditelan bumi. Apakah akan kita biarkan fenomena ini terus terjungkal ditutup tanah, mendahului tuannya sebelum menutup mata.

Tuan dan puan. Simak baik-baik. Jutaan pensiunan sengatnya setara dengan voltase 34 juta megawatt. Jangan sampai raksasa yang “megatron” itu, akhirnya cuma indah di sungai seperti pawai “air beriak tanda tak dalam”. Padahal sepanjang perjalanan ke muara, mestinya mereka bisa suburkan tanah-tanah yang dilalui. Martabat mereka otomatis termarwahkan.

Sampai hari ini kedigdayaan mereka terpreteli, hingga semua luruh dilumat muara. Sampai kapan? Berharap mereka bangkit atau masih berperan, tanpa izin kita sudah mereka lakukan. Beragam perkumpulan muncul, yang tahukah bahwa mereka jadi tulang punggung. Untuk aktualisasikan kerentaan agar tak teronggok seperti cucian kotor.

Seperti kita juga. Dulu banyak pensiunan yang tak berikrar bangun negeri. Tapi mereka telah laksanakan “janji yang tak terucap”. Kini kita tengah bangun negeri. Jangan sampai kealpaan kita, justru pemutus hasrat mereka serahkan kemaslahatan untuk bangsa ini.

Hidup negeri tetap masih mesti berlanjut. Kemarin mereka para pensiunan bangun fondasi negeri. Sekarang kita yang bangun tubuh. Esok anak cucu perbaiki keretakan dan poles sana sini perluas bangunan. Sulit atau mudah, toh kapal bangsa ini telah dan tengah bergoyang-goyang dimainkan samudera.

Semua tergantung kini, itulah kita sebagai hub. Apakah pensiunan tetap kita biarkan jadi kerumunan atau barisan. Untuk apa kita ada sekarang jika tak terpanggil untuk itu. Salah satu jawabnya memang untuk jembatani kemarin dan esok.

Tak mampu “berdayakan pensiunan yang sudah berdaya”, ibarat kita hidup dengan “rendahnya kualitas kepekaan”. Padahal bisa jadi disertasi kita summa cumlaude. Sedang bagi pensiunan untuk apa “hidup tanpa kontribusi”. Ketika ketika para pensiunan “hidup jadi beban”, apakah itu kekeliruan kita?

Ibarat papan catur, hidup pensiunan tergantung orang lain. Jika pemainnya bukan grand master, maka ada dua kesia-siaan. Pertama itulah keberadaan kita yang sia-sia. Luput mainkan para pensiunan yang dulu sudah jadi master di bidangnya. Kedua keberadaan master masa lalu juga tersia-sia.

Jangan sampai di liang lahat, dinding-dinding tanah kubur jadi penampung keluhan “habis manis sepah dibuang”. Sebab sampai hari ini tak ada satu jalan pun di Indonesia yang pakai nama Soekarno. Nama bandara pun mesti bersanding dengan Hatta. Nama Soeharto, Habibie, dan nama Gus Dur, moga turbelensi selesai hingga tak lestari “kacang lupa kulitnya”.

Jasa-jasa besar orang-orang di atas tetap butakan mata. Berharap perlakuan yang lebih baik pada pensiunan, bukankah seperti “pungguk rindukan bulan”. Ibarat wayang. Peran selesai langsung masuk kotak. Nasib pun tergantung perjalanan di darat, udara, dan laut. Yang dulu di tempat basah, mesti disyukuri karena berkahnya mungkin masih bisa lingkupi anak cucu. Yang kurang beruntung?


foto : Envato

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *