“Pengalaman Tak Tergantikan Apapun” (Mahathir Mohamad – Bag. 2)

oleh : Erie Sudewo

—

Karena rahasia maka tak banyak yang tahu, bahwa sesungguhnya rumus manajemen konflik adalah “tak perlu kendalikan semua orang”. Kendalikan semua orang, itulah jebakannya. Sinyal keserakahan yang akhirnya boomerang juga: “Tak bisa kendalikan diri”.

Dalam kehormatan sosial, keteladanan jelas mantra paling ampuh ketimbang cara apapun. Cuma tak bisa dihindari, “lawan-lawan tolak keteladanan lawan”. Lha mesti ingat. Rasulullah SAW yang uswahnya sempurna pun tetap dimusuhi.

Itulah leader mesti meramu kekuatan dari retakan-retakan konflik kepentingan. Pemerintah memang ajang tempat bertikainya semua kepentingan. Maka strong leader mesti terus bersiasah. Demi maslahat tujuan maupun akhirnya.

Dalam meningkatkan kualitas dan loyalitas, boleh-boleh saja leader seolah mengadu para jenderal. Silakan mereka bertikai. Ributlah untuk adu konsep, adu kemaslahatan, dan adu strategi.  Asal semua dikhidmatkan untuk kemajuan negeri.

Ada pepatah tua berujar: “Pengalaman tak tergantikan bahkan oleh kecerdasan apapun”. Daleeem. Sindiran bagi yang “merasa pandainya” lebihi kapasitas otak. Namun bagi yang pengalamannya telah antar diri jadi “pandai merasakan”, pesan itu langsung termentahkan.

Pandai cuma satu bagian. Pengalaman rangkum semua, termasuk tak gegabah leluasakan otak sisihkan akal. Otak dituntut cerdas, akal wajib sehat. Otak cerdas belum tentu berakal sehat. Akal sehat sudah pasti cerdas otaknya.

Kenangan wawancara dengan Mahathir Mohamad, tak juga meruap. Bukan karena wajah teduhnya. Bukan pula kata-katanya yang terstrukur, halus, dan sopan. Namun yang diujar, memang cerminan world class statesmen-nya.  Negarawan tingkat dunia.

“Dato. Kabarnya Malaysia sudah jalin aliansi beberapa negara guna mulai transaksi dengan emas. Bagaimana perkembangannya?”

Wajah Dato Mahathir tetap tenang. Tak berubah, tak terkesiap sekelabat pun. Ada masalah  dengan bawa-bawa mimik wajah? Simak. Andai transaksi emas berjalan, itu bukan sekadar transaksi. Tatanan dunia dijungkir balik. Itu sulut keangkara-murkaan penguasa dunia. Akhir episode bisa sad ending.

Mau dapat gambaran utuh, coba lahap buku Confessions of an Economic Hit Man. Di buku itu, John Perkins, penulisnya katakan dia berkarir sebagai “perusak ekonomi”. Ditulis sejak tahun 1980-an. Namun ancaman atau suapan menyendatnya hingga baru terbit di 2004.

Nah lugas kan mengapa China perlu kolaborasikan dahsyatnya dengan Rusia. Bahkan dua negara besar ini pun koalisikan beberapa negara lain di BRICS. Tanpa US, rasanya PBB lemah syahwat. Tanpa China dan Rusia, BRICS?

“Ada negara yang belum siap,” jawab Dato Mahathir taktis. Tetap tak terjebak, tetap tak slip of the tongue, tetap bisa kuasai diri.

Pengalaman Dato Mahahthir singkap dirinya: “Beliau yang satu ini memang bukan orang sembarangan”. Dengan latar dokternya, dia jadi orang pertama puak Melayu yang buka klinik tahun 1957. Karakter mentalnya memang tak tertera sebagai slogan di dinding klinik. Namun  gegap gempita memahat sanubari para penyintas, berdirinya balai kesehatan aseli bumi putera pertama.

Tahun itu Malaysia merdeka. Itu saat-saat sulit yakini kegamangan dengan momentum. Hati-hati memang baik. Tapi yang lebih baik keberanian putuskan di kecamuk ketidakpastian. Dirikan klinik mungkin keliru. Tapi menunggu aman juga mungkin keliru karena “aman itu sampai kapan”. Bisa-bisa kesempatan pun raib.

Dari tanya jawab dengan para pasien, dianogsanya meluas ke soal sosial. Juga jadi mendalam dengan rekatkan puzzle-puzzle dalam peta problem puak Melayu. Akhirnya keresahan, masalah, dan solusinya dia guratkan dalam buku Dilema Melayu.

Buku pertamanya yang terbit tahun 1970 ini jadi pencerah. Sekaligus jadi fondasi Malaysia bakal gapai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Yang dalam buku Asian Drama, Gunnar Myrdal katakan: “Malaysia bakal jadi salah satu macan Asia”.

Tapi di awal di tahun terbit itu juga, buku Dilema Melayu dilarang Tun Abdul Razak. Alasan  karena mengkritik kebijakan negara, tak berpihak pada kalangan Melayu. Masyarakat juga heboh, ditohok tiga hal. Suku Melayu dikata ‘malas’, ‘kurang tanggung jawab’, karenanya ‘mudah puas’.

Tahun 1974, Dato Mahathir dilantik jadi Menteri Pendidikan. Di tahun 1976, qadarullah disumpah pula sebaga Wakil PM. Untuk akhirnya jadi PM ke-4 di tahun 1981. Serta PM ke-7 tahun 2018 – 2020, menggantikan Najib. (Bersambung).

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *