“Sama-Sama Melayu, Beda Nasib” (Mahathir Mohamad – Bag. 3)

oleh : Erie Sudewo
—–

Sejak jadi PM, Dato Mahahthir leluasa atasi keresahannya. Merujuk buku Dilema Melayu, kebijakan New Malaysia dirancang. Kebijakan modernisasi, industrialisasi, dan reformasi ekonomi. Jelas sosok Mahathir sebagai pembaharu, jadi sang arsitek Malaysia Baru.

Dalam kebijakan Dato Mahathir di otomotif, Malaysia tak sungkan gandeng Mitsubishi. Ubah Mitsubishi Lancer Fiore jadi Proton Saga. Awal produksi tahun 1985. Dengan banyak model, total produksi Proton hingga kini capai kurleb 5 juta unit.

Indonesia, entah mengapa ogah akuisisi Toyota Kijang. Sejak lahir di 1974 hingga sekarang, total produksi Kijang capai sekitar 2 juta unit. Persamaannya seperti Proton, Kijang pun digadang-gadang jadi “mobil nasional”. Bedanya laba Proton masuk kas negara. Kijang?

Mei 1999, terbit lagi buku Dato Mahathir. Judulnya A New Deal for Asia. Seperti upper cut tinju, di halaman 1 buku ini mengawali dengan satu kata, GREED. Curang, serakah. Bagai air bah, letupan Mahathir tak terbendung.

Mahathir meledak pada para spekulan pedagang uang yang buat krisis moneter 1997 – 1998. Intinya “keserakahan uang buat banyak negara tumbang”. Ekonomi berbagai negara yang dikreasi berpuluh-puluh tahun, akhirnya ambruk hanya dalam waktu semalam dua malam. “Tak bermoral”, tandasnya.

Di A new deal for Asia, Mahathir ajak negara yang terlabrak krisis moneter untuk tegap lagi. Ajakannya simple, strategi flat atau fixed rate. Patok USD 1 = RM 3.80. Lantas kontrol uang. Ringgit tak boleh terbang ke luar. Karena juga tak ada suap menyuap, ekonomi Malaysia lebih cepat siuman ketimbang negeri lain.

Indonesia tak kepincut ajakan Jiran. Indonesia lebih pede ikut “saran” IMF. Pakai strategi floating, ngambang. Seperti di lautan, kapal Indonesia disuruh ikuti arus. Kerek suku bunga, lantas pangkas subsidi.

Hasil, rupiah anjlok. Dari Rp 2.400 tembus ke Rp 16.000. inflansi melambung, bank banyak kolaps. Cilakanya banyak pengkhianat. Uang tak terkontrol, berbondong-bondong terbang cari selamat untuk parkir di luar negeri.

Anologinya sederhana. Malaysia dan Indonesia ibarat kapal yang sama-sama jumpa badai. Malaysia lempar jangkar agar tak hanyut. Itulah fixed rate. Indonesia ikutin badai. Tak usah lempar jangkar. Ikuti ombak, enak semilir. Tak usah kerja keras. Biar pasar yang tentuin rupiah.

Akhirnya RM hingga kini tetap bertahan di RM 3.80 per 1 USD. Sedang di kita, tanpa krisis moneter, toh 1 USD bisa tembus Rp 18.000an. Kereeen. Kondisi yang jangan-jangan malah ada yang bersyukur, rupiah stabil untuk di angka itu. Dan jangan-jangan lagi, yang tak kenal dollar pun tetap bahagia dan aman-aman saja.

Mengapa Mahathir disajikan sebagai ibrah? Sederhana. Sama-sama Melayu, bro. Nama Perdana Leadership Foundation, itu penegas tradisi mereka hargai generasi sebelumnya. Nilai kebangsaan tetap dirawat. Apa yang dicapai sebelumnya, bukan disisihkan karena beda partai. Tapi dijadikan pijakan untuk lapisan berikut.

Kini kita mesti berpikir keras. Mengapa segagah Indonesia, koq lahirkan Konoha. Indonesia masih berharap ada perubahan signifikan di 100 tahun merdeka. Konoha? (Habis).


foto: Tribunnews.com

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *