“Malaysia Tak Dibangun Seorang Diri” (Mahathir Mohamad – Bag. 1)

oleh: Erie Sudewo
—-

“Bangsa yang tak disiplin, jangan bercita-cita maju.” Jawab Dato Mahathir sembari seyum. Sunggingan polos yang nihil pretensi. Cuma jawaban itu terlanjur bobol sekat netralitas wartawan.

Padahal dimanapun wartawan mesti jaga etika, tak berpihak, tak terpancing, dan tak tersulut. Hanya, itu idealnya. Nyatanya wartawan juga manusia yang itulah jadi terusik. Kenapa terusik? Qadarullah negaranya si wartawan penuh problem. Sensi.

Salah satu problem akutnya, bangsanya yang memang tetangga Malaysia ini, terkenal sebagai bangsa yang “disiplinnya adalah tak disiplin”. Karena right or wrong is my country, jawaban Dato Mahathir seperti sengatan listik. Menyetel alarm sakral kebangsaan.

Lalu “Indonesia negara besar. Problemnya pasti juga amat besar.” Jelas sang maestro Malaysia, tanggapi pertanyaan yang latar nawaitu-nya nakal. Menjebak. Alih-alih keseleo lidah, jawaban Dato Mahathir buat kepala si wartawan mengangguk kagum. “Buaya memang ga bisa dikadali,” gumamnya.

Wawancara yang kurleb 2 jam ini, berlangsung di Gedung Perdana Leadership Foundation. Di tepi danau buatan di Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia. Sekitar 25 km dari Kuala Lumpur.

“Mengapa lembaga yang Dato buat, namanya Perdana Leadership Foundation. Mengapa bukan Mahathir Leadership Foundation?” Lontaran pertanyaan yang tergelitik karena ingat Singapore membesut Lee Kuan Yew School of Public Policy.

“Malaysia dibangun tak seorang diri. Ada banyak pemimpin yang turut membangun negeri. Tak elok jika dinamakan dengan satu nama saja.”

Jleeeb. Siapa yang tak terperangah. Pikiran langsung gas pol ke negeri sendiri. Cukup banyak tokoh negeri yang coba abadikan namanya jadi Anu Center atau Itu Centre. Tapi sebanyak itu pula yang akhir papan namanya pun berlomba-lomba bersembunyi.

Di soal nama, itu bukti kemarufan tersembunyi Mahathir. Kualitas sejernih oase di padang pasir, penghilang dahaga teladan. Bersih dari rasa angkuh, ini AKU. Tak sibuk bersolek jadi orang penting. Padahal di tangannya Malaysia terpoles dan terbukti jadi salah satu “macan asia”.

Nama Perdana memang jadi sulaman indah. Di 2005 Perdana diresmikan oleh Tun Abdullah Badawi, PM saat itu. Nama Perdana jadi betul-betul merangkul, penuh rasa kasih, dan rasa syukur. Tak buat sungkan para keluarga PM sebelumnya, hadir turut merayakan peresmian lembaga. Guyub sesama keluarga PM.

Menarik. Apalagi bandingkan dirinya dengan maestro jiran, Mr. Lee Kuan Yew. Meski sama-sama bangun negeri, namun sentuhannya beda kontras. Dato Mahathir, pakai state strategy. Mr. Lee pakai corporate strategy. Mahathir mesti berjingkat di antara partai-partai. Mr. Lee setengah hati soal partai, cuma sebatas ada agar tetap terdaftar di peta dunia demokrasi.

Perdana Leadership Foundation, berdiri sendiri tanpa sandaran ke institusi lain. Sedang sekolah kebijakan publiknya Lee Kuan Yew yang otonom itu, ada di bawah naungan Universitas Nasional Singapura (NUS). Tak ada soal untuk keduanya.

Di kita, hilangnya papan nama mungkin dipicu beberapa sebab. Ke-1 buat center-center-an karena logika euphoria politik sesaat. Memang beti antara sesaat dan sesat. Ke-2 desakan ambisi kultur feudal yang juga tak lekang-lekang. Di samping ke-3, tradisi intelektual kita memang tak setrengginas how to corrupt.

Nasihat bijak yang lama terpendam bilang begini: “Orang penting sejati memang tak lagi perlu bersibuk diri tampil sebagai orang penting. Orang terhormat pun tak cari-cari alasan untuk dihargai. Orang berintegritas malah jauh dari jujur-jujurkan diri cari simpati.”

Memang juga tugas leader tak harus dan tak bisa puaskan semua pihak. Tapi jangan lupa. Leader yang baik, tak diamkan persoalan kecil jadi besar. Tak biarkan soal sepele jadi matang. Tak biarkan puntung rokok membakar hutan. (Bersambung).
—

Foto : Tempo.co

Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *